SURABAYA KANALINDONESIA.COM – Kabar dugaan pengkondisian peserta menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dan politik uang, santer dibicarakan jelang acara puncak Muktamar NU tahun 2026.
Dari sejumlah informasi yang beredar Para muktamirin saat ini ada pengkondisian yang dilakukan di Surabaya seperti Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, tetapi juga di sejumlah lokasi lain.
Seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebut pengkondisian muktamirin di Asrama Haji Sukolilo benar terjadi. Tidak hanya di dua tempat itu, sumber juga menyebut pertemuan serupa juga dilakukan di sejumlah tempat lain di Surabaya, termasuk salah satu hotel di kawasan pusat kota dan Surabaya Selatan.
Yang tidak kalah menggemparkan, masih menurut sumber tersebut, Muktamar organisasi Islam terbesar di Indonesia ini dikabarkan adanya dugaan pemberian uang sebesar Rp50 juta kepada peserta yang dikondisikan.
“Mereka dikondisikan dengan disuap Rp50 juta per orang,” katanya.
Ia menjelaskan, Setiap PCNU empat orang yang diundang, yakni Rais Syuriyah, Katib, Ketua Tanfidziyah, dan Sekretaris PCNU. “Masing-masing dikasih Rp50 juta,” ujarnya.
Sumber tersebut mengaku tidak hanya mendengar informasi itu dari satu pihak. Ia menyatakan telah melakukan konfirmasi kepada sejumlah orang yang disebut mengetahui langsung mengenai dugaan tersebut, perwakilan PCNU dari beberapa wilayah di Jawa dan non Jawa.
“Saya sudah konfirmasi ke beberapa pengurus yang hadir diundang dan pengakuannya sama saja, dan itu masih DP 50%,” tegasnya.
Nama Sejumlah Tokoh Disebut
Kabar tersebut juga menyeret sejumlah nama yang disebut hadir dalam forum-forum pengkondisian. Salah satunya Ketua Panitia Muktamar NU ke-35, Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul.
“Gus Ipul hadir untuk mengkondisikan para peserta. Yang terlibat juga Prof Nuh,” ujarnya.
Masih dari sumber tersebut, Prof Nuh juga dikabarkan hadir dalam forum pengkondisian namun di lokasi yang berbeda.
Tak berhenti di situ. Sumber juga menyampaikan bila pengkondisian tersebut juga dihadiri calon Ketua Umum PBNU Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.
“Iya benar, pengkondisian di salah satu hotel di Surabaya hadir juga Gus Kikin,” katanya, yang tidak berkenan namanya disebutkan.
Kabar ini tentu membuat dinamika Muktamar makin panas , dan bisa jadi membuat interpretasnya tercoreng.
Informasi ini makin menambah panjang polemik menjelang pembukaan Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung hari ini di Jombang.
Sebelumnya, dinamika menjelang forum lima tahunan NU juga disorot terkait transparansi, proses konsolidasi peserta, hingga munculnya kabar mengenai pembatasan ruang gerak media dalam meliput aktivitas muktamar.
Kondisi tersebut mendapat reaksi keras dari KH Abdul Muhaimin A’wan PBNU sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummahat Kotagede, Yogyakarta.
Ia mengecam segala bentuk tindakan yang dinilai dapat menurunkan kesakralan Muktamar NU sebagai agenda lima tahunan organisasi. Bahkan ia mendesak agar kandidat yang melakukan praktik risywah atau politik uang harus didiskualifikasi.
“Kandidat yang terbukti terlibat langsung maupun tidak langsung dalam praktik risywah, wajib didiskualifikasi dalam pemilihan di Muktamar ke-35 NU,” tegas KH Abdul Muhaimin.
Ia menilai, dugaan pengkondisian delegasi PWNU dan PCNU di Asrama Haji Sukolilo Surabaya merupakan persoalan serius yang harus menjadi perhatian seluruh muktamirin.

