Saat itu, orang tua Sanja menerima Jazil.
“Saya tak tahu apakah masih ada darah Madura di tubuh saya,” ujar Jazil kepada Ayah Sanja, tokoh Dayak.
Lanjut Jazil, “Saya hanya mendengar.
Buyut saya dari Madura.
Tahun 1930, ia ikut transmigrasi ke sini.”
Tapi saya, ayah saya, kakek saya, lahir di sini, di Kalimantan Tengah.
Lalu meledaklah konflik itu.
Puncaknya 18-21 Febuari 2001.
Ratusan suku Madura tak hanya dibunuh suku Dayak, tapi juga dipancung kepalanya.
Sore itu, Jazil menjerit kencang sekali.
Ayahnya mati di tangan suku Dayak.
Jazil melolong.
Suaranya menyentuh langit:
“Tidaaaaaakkkkk!
Apa salahmu, Ayah?
Kau tak ikut konflik ini!”
