“Mengungsilah Dulu, Sayangku” (hal. 62).
Rasa yang ngilu,
pelan tapi dalam,
menyelinap di hati Jazil.
Suasana hening terbang,
dibawa angin,
memenuhi udara Kota Sampit, di satu sore tahun 2015. Sepi.
Juga sedih.
Empat belas tahun sudah,
Jazil pergi dari kota ini.
Kini, pertama kali, Jazil kembali.
Kembali ke Sampit.
Ia pulang.
Ia memberanikan diri.
Jazil pulang setelah berdiri Tugu perdamaian. Tugu suku Dayak dan suku Madura.
Jazil duduk di tangga.
Diambilnya secarik kertas, dari saku.
Catatan lama yang lusuh, dari tahun 2001, empat belas tahun lalu.
Ia baca kembali:
“Mengungsilah dulu, sayangku. Menjauh dari Kota Sampit. Semua sedang gila.
Ketika sudah reda,
kembali lagi ke sini, ke Kota Sampit.
