Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL BUDAYA DAN WISATA

Konflik Sampit 2002, Suku Dayak vs Suku Madura, dalam Puisi Denny JA: Amarah yang Terpendam, Kesedihan yang Puitis

Sub bab tentang Sampit diawali dengan ikon foto tugu Perdamaian Sampit. Sub bab berjudul Kerusuhan Sampit 2001, Suku Dayak Versus Suku Madura (halaman 62-99), bermuatan lima puisi esai.

Judul puisi esainya: “ Mengungsilah Dulu, Sayangku”, “Ayahku Menggali Kuburan Massal”, “Kakakku Berburu Kepala”,“Jika Kau Rindu, Pandanglah Bintang Paling Terang”, dan “Ulfah Mencari Ayah Kandung”.

Dalam kelima puisi tersebut Denny JA cukup detail mengalihbahasakan rasa sedih, marah, dan kekerasan yang berlangsung. DJA seolah adalah saksi langsung dan tidak langsung yang menyampaikan sudut pandang ‘kesaksian’ dari peristiwa-peristiwa tersebut.

Sebagai contoh, DJA menuangkan episode akibat konflik dari sudut pandang korban yang harus pergi dua kali dari Sampit, dalam konteks sesudah ‘perdamaian’ antara etnis Madura dan Dayak berlangsung.

Puisi berikut ini menurut saya sangat subtil menceritakan rasa rindu, sedih, sesak, dendam, marah, asa, tak berdaya yang sangat mendalam dari dua lakonnya: Jazil, pemuda asal Madura, dan Sanja, perempuan Dayak.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita