Dalam konteks tantangan yang dihadapi oleh sistem pelayanan kesehatan, dua isu penting yang muncul adalah ketidaksetaraan akses dan kurangnya partisipasi pasien dalam proses perawatan. Kedua isu ini sejalan dengan teori “Healthcare Disparities” dari David R. Williams, yang menyatakan bahwa perbedaan sosioekonomi dan geografis bisa menciptakan disparitas dalam kualitas dan akses pelayanan kesehatan. Tidak hanya mengakibatkan perbedaan dalam tingkat keselamatan pasien antar wilayah, disparitas ini juga menimbulkan ketidakadilan dalam distribusi sumber daya medis seperti fasilitas, personel, dan teknologi. Selain itu, kurangnya partisipasi pasien dan keluarga dalam pengambilan keputusan perawatan merujuk pada model “Paternalistic Care,” di mana keputusan medis cenderung diambil oleh para profesional medis tanpa keterlibatan pasien. Ini menciptakan hambatan dalam penyampaian informasi dan pemahaman pasien mengenai perawatan yang mereka butuhkan. Kedua tantangan ini, jika tidak ditangani, akan terus mempertahankan siklus ketidaksetaraan dan marginalisasi dalam sistem kesehatan.
Kurangnya transparansi dalam sistem kesehatan, seperti yang dinyatakan oleh para ahli, merupakan isu yang mendesak untuk diatasi. Sebelumnya, akses masyarakat umum terhadap informasi tentang keselamatan pasien seringkali terbatas, yang pada gilirannya menghambat kemampuan pasien dan keluarga untuk membuat keputusan perawatan yang berdasarkan bukti. Peringatan Hari Keselamatan Pasien Dunia 2023 menggarisbawahi bahwa kurangnya komunikasi efektif antara penyedia layanan kesehatan, pasien, dan keluarga adalah salah satu tantangan utama dalam mencapai keselamatan pasien yang optimal. Terkadang, informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan yang cerdas tidak dapat disampaikan dengan efektif, yang dapat mengakibatkan ketidakpastian dan risiko yang tidak perlu. Dalam usaha mengatasi tantangan ini, peringatan ini mendorong peran yang lebih besar bagi pasien, keluarga, dan caregiver dalam proses perawatan kesehatan. Dengan menjadikan mereka sebagai mitra aktif dalam tim perawatan kesehatan, kita dapat bergerak menuju tingkat keselamatan pasien yang lebih tinggi dan sistem kesehatan yang lebih adil. Peringatan Hari Keselamatan Pasien Dunia 2023 adalah langkah maju yang penting dalam memahami peran penting pasien dan keluarga dalam keselamatan pasien, serta mengatasi hambatan yang selama ini menghalangi pencapaian keselamatan pasien yang optimal.
III. Surveior Akreditasi sebagai Agen Perubahan
A. Peran dan Tanggung Jawab Surveior Akreditasi
Dalam teori manajemen perubahan Dr. John Kotter, yang terkenal dengan “8 Langkah Perubahan,” dia menekankan pentingnya memiliki agen perubahan untuk memastikan transformasi yang sukses dalam organisasi. Dalam konteks keselamatan pasien, surveior akreditasi muncul sebagai agen perubahan tersebut. Mengacu pada pemikiran Kotter, peran surveior akreditasi dalam memastikan fasilitas kesehatan memenuhi standar akreditasi ketat adalah refleksi dari langkah pertama dalam proses perubahan, yaitu menciptakan rasa urgensi. Kesadaran yang meningkat tentang keselamatan pasien di beberapa dekade terakhir mencerminkan rasa urgensi ini, mendorong transformasi dalam praktik kesehatan, termasuk penerapan sistem akreditasi kesehatan yang lebih ketat.
