Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Surveior Akreditasi dan Keselamatan Pasien:  World Patient Safety Day 2023

Dalam konsep Deming tentang manajemen kualitas, surveior akreditasi berfungsi sebagai pilar penting dalam siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA) untuk meningkatkan kualitas layanan di lembaga kesehatan. Seperti yang dikemukakan oleh Deming, kualitas bukan hanya tentang memenuhi standar tetapi juga tentang adaptasi dan pembaruan berkelanjutan untuk mencapai kesempurnaan. Dalam konteks ini, surveior akreditasi memastikan bahwa lembaga kesehatan tidak hanya mematuhi standar keselamatan pasien yang ditetapkan tetapi juga berinovasi dalam pelayanannya. Namun, tahapan ‘Check’ dalam siklus PDCA, di mana evaluasi dan feedback diberikan, dapat menghadapi hambatan. Salah satunya adalah ketika pasien, sebagai stakeholder utama dalam pelayanan kesehatan, kurang terlibat. Keterlibatan pasien dalam proses keselamatan mereka sendiri bisa menjadi tantangan, karena bisa jadi ada kurangnya pemahaman atau keterampilan untuk berpartisipasi aktif. Hambatan lain mungkin meliputi resistensi dari staf medis terhadap perubahan, kurangnya sumber daya, atau bahkan perangkat lunak yang tidak memadai untuk mendukung proses survei.

  1. Kurangnya Pemahaman tentang Peran Pasien

Menurut Dr. Paul Batalden, seorang ahli dalam bidang kualitas perawatan kesehatan, “Setiap sistem diperancang untuk mendapatkan hasil yang diperolehnya”. Dalam konteks keselamatan pasien, konsep ini menekankan pentingnya melibatkan pasien sebagai bagian integral dari sistem kesehatan. Meski banyak lembaga kesehatan dan staf medis belum sepenuhnya memahami pentingnya keterlibatan pasien dalam keselamatan pasien, pendekatan seperti yang disarankan oleh Dr. Batalden dapat menjadi solusi. Edukasi dan kesadaran yang lebih baik mengenai peran aktif pasien dalam mengidentifikasi dan melaporkan masalah keselamatan adalah kunci untuk mengatasi hambatan tersebut. Dengan melibatkan pasien sebagai mitra dalam perawatan kesehatan mereka, kita bukan hanya memaksimalkan kualitas perawatan, tetapi juga memastikan keselamatan mereka.

B. Ketidaknyamanan dalam Memberikan Umpan Balik

Dalam teori komunikasi antarpribadi oleh Dale Carnegie, penekanan diberikan pada pentingnya mendengar, menghormati pendapat orang lain, dan memberikan kritik dengan cara yang membuat orang lain ingin berubah. Berdasarkan konsep Carnegie, surveior yang merasa kurang nyaman atau ragu-ragu memberikan umpan balik mungkin menghadapi kesulitan dalam berkomunikasi dengan cara yang memotivasi fasilitas pelayanan kesehatan untuk membuat perubahan positif, khususnya terkait keterlibatan pasien. Namun, dengan memberikan pelatihan kepada surveior tentang prinsip-prinsip komunikasi efektif seperti yang diajarkan oleh Carnegie, mereka dapat diajarkan bagaimana memberikan umpan balik yang konstruktif dengan cara yang sensitif dan menghormati, sehingga meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam peran penting ini dan memastikan bahwa pesan mereka diterima dengan baik oleh lembaga kesehatan.

C. Ketidaksetaraan Kekuasaan

Dalam teori komunikasi kesehatan yang diajukan oleh Julia T. Wood, penekanan diberikan pada bagaimana dinamika komunikasi antara pasien dan penyedia layanan kesehatan dapat mempengaruhi persepsi dan pengalaman pasien. Wood mengemukakan bahwa banyak pasien sering kali merasa tidak berdaya dan kurang dihargai ketika berhadapan dengan profesional kesehatan. Ini diperparah ketika ada keterlibatan pihak ketiga, seperti surveior akreditasi, yang dapat memperdalam perasaan ketidaksetaraan. Untuk mengatasi tantangan ini, Wood menyarankan untuk menciptakan lingkungan komunikasi yang mendukung. Lingkungan ini harus memprioritaskan keterlibatan pasien dengan cara yang membuat mereka merasa aman dan didengar. Dengan meningkatkan komunikasi dua arah, di mana pasien diberikan kesempatan untuk berbicara dan dieksplorasi pendapatnya, perasaan ketidaksetaraan dapat berkurang. Ini memperkuat gagasan bahwa komunikasi efektif adalah kunci untuk membangun hubungan yang lebih seimbang dan mendukung antara pasien dan penyedia layanan kesehatan.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita