Dalam perspektif Dr. Donabedian, seorang pakar dalam evaluasi mutu pelayanan kesehatan, kualitas pelayanan dapat dilihat dari tiga dimensi: struktur, proses, dan hasil. Evaluasi keselamatan pasien pasca-proses akreditasi sejatinya mencerminkan konsep teorinya ini. Struktur melibatkan unsur-unsur seperti pelatihan dan pendidikan yang diterima oleh staf medis, serta perubahan dalam praktek dan prosedur. Proses mencakup pelaksanaan protokol keselamatan baru, penerapan teknologi canggih, dan peningkatan dalam komunikasi. Namun, yang paling menentukan adalah hasil yang dicapai, seperti penurunan insiden negatif, tingkat kepuasan pasien yang meningkat, dan pengakuan eksternal. Indikator-indikator ini memberi gambaran konkret sejauh mana tujuan keselamatan pasien telah tercapai. Sebagai contoh, jika fasilitas pelayanan kesehatan melaporkan peningkatan kesadaran dan budaya keselamatan, hal ini menunjukkan adanya perubahan positif dalam proses dan struktur yang telah diterapkan. Sementara penghargaan dari badan eksternal dapat dianggap sebagai validasi dari hasil yang telah dicapai oleh fasilitas pelayanan tersebut. Dengan mengkombinasikan evaluasi struktur, proses, dan hasil, kita dapat memahami gambaran keseluruhan tentang dampak implementasi tindakan akreditasi dalam konteks keselamatan pasien.
Dalam implementasi akreditasi dan peningkatan kualitas di fasilitas pelayanan kesehatan, faktor kunci keberhasilan melibatkan kombinasi beberapa elemen, menurut pandangan Dr. John Kotter. Ini mencakup kompetensi, sumber daya, teknologi, komunikasi efektif, keterlibatan pemangku kepentingan, dan kerjasama tim. Keterlibatan pemangku kepentingan, pendekatan berbasis bukti, fleksibilitas, dan budaya keselamatan yang kuat juga penting. Evaluasi dan feedback berkelanjutan diperlukan untuk adaptasi dan perbaikan terus-menerus.
Namun, surveior menghadapi berbagai tantangan dan hambatan, sebagaimana dijelaskan oleh teori perubahan organisasional Kurt Lewin. Ketahanan terhadap perubahan, keterbatasan sumber daya, kurangnya informasi, isu komunikasi, dan masalah teknis semuanya dapat menghambat proses perubahan. Untuk mengatasi ini, surveior harus melibatkan pemangku kepentingan, memberikan pelatihan, mencari solusi kreatif, dan mengintegrasikan perubahan dengan budaya organisasi.
Pelajaran yang dapat diambil dari perspektif teori difusi inovasi Everett Rogers adalah pentingnya keterlibatan semua pemangku kepentingan, komunikasi interpersonal, fleksibilitas, monitoring, evaluasi, komitmen jangka panjang, berbagi pengalaman, dan kemampuan teknologi. Ini membantu mempercepat adopsi inovasi dan memastikan keberlanjutan dalam organisasi.
C. Peran kolaborasi surveior akreditasi dalam berbagai studi untuk meningkatkan keterlibatan dalam keamanan pasien.
Penelitian oleh Gabutti I (2017) dan penjelasan konsep perawatan berpusat pada pasien sesuai dengan teori Watson. Tekanan finansial yang dihadapi rumah sakit dalam merawat pasien kronis multi-patologis dapat diatasi dengan mengadopsi model perawatan pasien yang progresif, yang sesuai dengan prinsip-prinsip teori Watson. Surveior akreditasi, dalam peran mereka, menjadi fasilitator dalam mengubah budaya perawatan menuju perawatan berpusat pada individu dengan kolaborasi yang kuat antara pasien dan penyedia layanan, sesuai dengan teori ini. Hal ini memastikan bahwa nilai-nilai, kebutuhan, dan hak-hak pasien terpenuhi, yang pada gilirannya meningkatkan kepuasan pasien dan keselamatan mereka.
Selain itu, dalam konteks pelayanan kesehatan di Afrika Selatan, implementasi prinsip-prinsip perawatan berpusat pada pasien seperti yang dijelaskan dalam Batho Pele (Pelayanan Orang) sejalan dengan teori Watson. Surveior akreditasi memiliki peran penting dalam memastikan bahwa standar perawatan berpusat pada pasien sesuai dengan prinsip-prinsip ini dan bahwa hak-hak pasien terjaga. Dengan kolaborasi dan komunikasi yang optimal, surveior akreditasi dapat membantu mengatasi hambatan dan meningkatkan keterlibatan dalam keamanan pasien.
