Oleh H. Ahyar Wahyudi, S.Kep.Ns.,M.Kep.,FIHFAA, FISQua, FRSPH dan Kolonel Laut Dr. dr. Hisnindarsyah, MSc, MH, C.FEM, FISQua, FRSPH . Penulis adalah anggota dari LAFKI surveyor
I. Pendahuluan
Dalam konteks Hari Keselamatan Pasien Dunia 2023, tema “Engaging patients for patient safety” menekankan peran penting pasien dalam meningkatkan keselamatan dalam pelayanan kesehatan. Dengan menerapkan konsep Shared Decision Making (SDM), pasien dan klinisi bekerja sama dalam pengambilan keputusan perawatan. Ini menciptakan keterlibatan pasien yang positif dan menghasilkan keputusan yang lebih baik, meningkatkan kepuasan pasien, dan menciptakan lingkungan perawatan yang lebih baik.
Dalam teori manajemen kualitas total (TQM) yang dicetuskan oleh W. Edwards Deming, kualitas layanan dan produk diperoleh melalui evaluasi dan perbaikan berkelanjutan. Surveior Akreditasi, dalam konteks manajemen kesehatan, berfungsi sebagai wujud penerapan prinsip-prinsip TQM ini. Mereka tidak hanya memastikan bahwa fasilitas kesehatan seperti pusat kesehatan dan rumah sakit kecil mematuhi standar keselamatan pasien yang tinggi, tetapi juga berfungsi sebagai agen perubahan. Dengan memberikan rekomendasi perbaikan berdasarkan pengawasan mereka, Surveior Akreditasi memastikan bahwa proses perbaikan berkelanjutan terjadi, sejalan dengan prinsip-prinsip TQM yang menekankan pentingnya feedback dan perbaikan berkelanjutan untuk mencapai kualitas pelayanan tertinggi.
Berdasarkan konsep Donabedian, seorang ahli dalam evaluasi kualitas layanan kesehatan, kualitas perawatan dapat didefinisikan melalui tiga dimensi: struktur, proses, dan hasil. Kolaborasi antara pasien yang aktif terlibat dalam perawatan mereka dengan Surveior Akreditasi mencerminkan dimensi ‘proses’ dari konsep tersebut. Pasien yang proaktif dan terlibat dalam perawatan mereka memastikan bahwa proses perawatan diterapkan dengan benar dan sesuai kebutuhan, sementara Surveior Akreditasi memastikan bahwa standar dan prosedur yang sesuai diterapkan. Bersama-sama, keduanya bekerja untuk menciptakan lingkungan perawatan yang lebih aman dan berkualitas, dengan hasil yang mencerminkan peningkatan keselamatan dan kepuasan pasien. Dengan keterlibatan pasien dan rekomendasi dari Surveior Akreditasi, kita melihat komitmen bersama dalam mencapai hasil yang optimal dalam pelayanan kesehatan.
Berdasarkan konsep pemangku kepentingan yang diuraikan dalam tata kelola organisasi, suatu pendekatan yang menekankan keterlibatan berbagai entitas dalam pembuatan keputusan, WHO memandang pasien, keluarga, dan komunitas sebagai elemen kritis dalam tata kelola kesehatan yang efektif. Pasien, yang berada di garis depan penerima manfaat layanan kesehatan, bukan hanya seharusnya menjadi sasaran perawatan, tetapi juga aktor aktif dalam perumusan kebijakan dan pelaksanaan perawatan. Melalui keterlibatan aktif dalam platform komunikasi, mereka diberi kesempatan untuk menyuarakan aspirasi, kekhawatiran, dan harapan mereka, memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil dalam dunia medis benar-benar mencerminkan kebutuhan dan preferensi mereka. Dengan demikian, dengan mengintegrasikan pendekatan pemangku kepentingan ini, WHO memastikan bahwa kebijakan kesehatan yang dihasilkan lebih inklusif, holistik, dan sesuai dengan kepentingan pasien.
Dalam konteks Swiss Cheese Model, pandangan pasien dan keluarganya menjadi lapisan tambahan dalam mendeteksi dan mencegah kesalahan dalam sistem kesehatan. Pasien dan keluarga, dengan pemahaman pribadi mereka tentang kondisi medis, dapat mengidentifikasi potensi risiko yang mungkin terlewatkan oleh profesional medis. Dengan melibatkan pasien sebagai mitra aktif dalam keselamatan pasien, fasilitas kesehatan dapat merancang strategi keselamatan yang lebih holistik.
